RS M. Djamil Ingatkan Pasien Cuci Darah Pentingnya Merawat Akses Vaskuler
RS M. Djamil terus meningkatkan edukasi kesehatan bagi pasien hemodialisis melalui pemahaman tentang pentingnya perawatan akses vaskuler untuk mencegah infeksi, menghindari komplikasi, dan menjaga kelancaran terapi cuci darah. Melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan, rumah sakit Kementerian Kesehatan RI ini menggelar edukasi dengan menekankan pentingnya perawatan yang tepat serta pengenalan tanda bahaya sejak dini di Unit Hemodialisa Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT), Kamis (8/10).
Kegiatan edukasi ini menghadirkan enam narasumber, yakni Ns. Flariana, S.Kep., Ns. Devi Harliza, Ns. Trinaldi, S.Kep., Rusmiati Tursip, Amd.Kep., Okfajrianda, Amd.Kep., dan Rhiska, Amd.Kep. Para narasumber memberikan penjelasan tentang pentingnya menjaga akses vaskuler agar tetap berfungsi dengan baik. Sekaligus mengedukasi pasien tentang cara perawatan yang benar serta tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai.
Dalam pemaparannya, Ns. Flariana, S.Kep. menjelaskan akses vaskuler merupakan jalur masuk ke pembuluh darah yang digunakan untuk mengalirkan darah dari tubuh pasien menuju mesin hemodialisis, kemudian mengembalikannya ke dalam tubuh setelah melalui proses penyaringan.
“Akses vaskuler merupakan bagian yang sangat penting dalam proses hemodialisis. Karena itu, pasien perlu memahami jenis akses yang digunakan serta cara merawatnya dengan benar agar tetap berfungsi optimal dan risiko komplikasi dapat diminimalkan,” jelasnya.
Ia menerangkan, terdapat dua jenis akses vaskuler yang umum digunakan pada pasien hemodialisis, yaitu Catheter Double Lumen (CDL) dan Arteriovenous Fistula (AVF) atau AV-Shunt yang juga dikenal sebagai Cimino.
CDL merupakan kateter dengan dua lumen yang digunakan untuk mengalirkan darah menuju dan dari mesin hemodialisis. Kateter ini umumnya dipasang pada vena jugularis interna di area leher atau vena femoralis di area paha. Penggunaan CDL membutuhkan perhatian khusus karena bagian kateter yang terhubung langsung dengan pembuluh darah harus dijaga kebersihan dan keamanannya untuk mengurangi risiko infeksi maupun komplikasi lainnya.
Sementara itu, AV-Shunt atau AV Fistula merupakan hubungan antara arteri dan vena yang dibuat melalui tindakan operasi, biasanya pada lengan. Akses ini memungkinkan aliran darah yang memadai untuk mendukung proses hemodialisis. Oleh sebab itu, pasien perlu menjaga kondisi akses tersebut dan mengikuti petunjuk tenaga kesehatan agar dapat digunakan secara optimal.
Ns. Flariana menjelaskan perawatan CDL memiliki sejumlah tujuan penting, mulai dari mencegah infeksi dan perdarahan, menjaga fungsi kateter, mencegah terjadinya sumbatan maupun kerusakan kateter, hingga mempertahankan keamanan pasien selama menjalani proses hemodialisis.
Untuk menjaga kondisi CDL, pasien diimbau agar selalu memastikan area pemasangan kateter tetap bersih dan kering. Perban yang menutupi area pemasangan juga harus dipastikan terpasang dengan baik sehingga dapat melindungi lokasi masuknya kateter. Selain itu, pasien perlu mencuci tangan sebelum menyentuh area di sekitar pemasangan serta memeriksa kondisinya setiap hari untuk mengenali perubahan yang mungkin terjadi.
Saat mandi, pasien juga harus melindungi area pemasangan CDL agar tidak terkena air secara langsung. Hal ini penting untuk membantu menjaga kebersihan area tersebut dan mengurangi risiko kontaminasi. Apabila perban basah, kotor, atau terlepas, pasien sebaiknya segera menghubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Dalam edukasi tersebut, pasien juga diingatkan agar tidak membuka atau mengganti perban sendiri tanpa arahan tenaga kesehatan. “Kateter tidak boleh ditarik, ditekuk, ataupun diputar karena tindakan tersebut dapat menyebabkan kerusakan atau mengganggu posisinya. Saat penggantian perban dilakukan oleh petugas, area kateter juga harus dilindungi agar tidak terkena gunting atau alat lain yang berpotensi menimbulkan cedera,” tegasnya.
Pasien yang menggunakan CDL turut diimbau untuk tidak berenang atau berendam di dalam air. “Kepatuhan terhadap berbagai larangan tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjaga keamanan kateter dan memastikan akses vaskuler dapat digunakan sesuai kebutuhan terapi,” ucapnya.
Selain memahami cara perawatan, pasien perlu mengenali tanda-tanda bahaya pada area pemasangan CDL. Kemerahan, pembengkakan, nyeri, keluarnya nanah atau cairan, serta perdarahan merupakan kondisi yang harus segera dilaporkan kepada tenaga kesehatan. Demam atau menggigil juga perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda adanya infeksi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Pasien dan keluarga perlu mengenali perubahan pada area pemasangan kateter. Jika muncul tanda-tanda seperti kemerahan, bengkak, nyeri, keluar cairan, perdarahan, demam, atau menggigil, jangan menunda untuk melaporkannya kepada tenaga kesehatan,” jelasnya.
Melalui kegiatan edukasi ini, RS M. Djamil berharap pasien hemodialisis tidak hanya memahami pentingnya terapi yang dijalani, tetapi juga memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjaga akses vaskuler dalam aktivitas sehari-hari. Keterlibatan pasien dan keluarga dalam perawatan menjadi bagian penting untuk mendukung kelancaran terapi serta mengurangi risiko komplikasi.
Edukasi ini sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan perawatan pasien hemodialisis tidak hanya bergantung pada tindakan medis di rumah sakit, tetapi juga pada kedisiplinan pasien dalam menjaga akses vaskuler di rumah. Dengan menerapkan perawatan yang tepat, menjaga kebersihan, memeriksa kondisi akses setiap hari, serta segera mencari pertolongan ketika muncul tanda bahaya, pasien dapat membantu menjaga keamanan dan keberlangsungan terapi.(*)