RS M. Djamil Evaluasi Penggunaan ICU Baru
RS M. Djamil terus melakukan evaluasi terhadap berbagai layanan untuk memastikan fasilitas dan pelayanan yang diberikan kepada pasien berjalan optimal. Pada Selasa (6/10), Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama Direktur Layanan Operasional, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, melakukan peninjauan langsung ke Intensive Care Unit (ICU) yang berada di lantai 2 Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung pemanfaatan ICU yang baru beroperasional sekitar satu bulan. Peninjauan tidak hanya melihat kondisi sarana dan prasarana, tetapi juga mengevaluasi bagaimana unit tersebut digunakan dalam mendukung penanganan pasien yang membutuhkan perawatan intensif.
ICU lantai 2 IGD tersebut memiliki kapasitas sebanyak 12 tempat tidur. Dari jumlah tersebut, enam tempat tidur menggunakan sistem kubikel yang memberikan ruang perawatan lebih terpisah bagi pasien. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung pelayanan pasien kritis sekaligus meningkatkan kenyamanan dan keamanan selama menjalani perawatan.
Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan, keberadaan ICU di lantai 2 IGD merupakan bagian dari upaya rumah sakit untuk memperkuat kapasitas pelayanan bagi pasien yang membutuhkan penanganan intensif.
“ICU ini baru beroperasional sekitar satu bulan, sehingga memang perlu kita evaluasi bersama. Kita ingin memastikan bahwa seluruh fasilitas yang sudah disiapkan benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pelayanan pasien,” ujar Dovy.
Menurutnya, evaluasi pada tahap awal operasional menjadi penting karena dari proses tersebut rumah sakit dapat melihat berbagai kebutuhan maupun kendala yang mungkin ditemukan selama pelayanan berlangsung. Hasil evaluasi nantinya dapat menjadi dasar untuk melakukan penyempurnaan, baik dari sisi sarana, alur pelayanan maupun koordinasi antarunit.
“Kita tidak hanya melihat apakah tempat tidur sudah terisi atau belum, tetapi juga bagaimana alur pasiennya, bagaimana fasilitasnya digunakan, bagaimana koordinasi antarpetugas dan apa saja yang masih perlu diperbaiki. Semua itu harus kita lihat agar pelayanan di ICU ini semakin baik,” katanya.
Dovy menambahkan, pelayanan intensif membutuhkan kesiapan yang menyeluruh karena pasien yang dirawat di ICU merupakan pasien dengan kondisi yang memerlukan pemantauan dan penanganan secara ketat. Karena itu, fasilitas yang memadai harus berjalan seiring dengan kesiapan sumber daya manusia serta sistem pelayanan yang terintegrasi.
“ICU bukan hanya persoalan menyediakan tempat tidur. Yang paling penting adalah bagaimana seluruh sistemnya berjalan, mulai dari tenaga kesehatan, peralatan, monitoring pasien sampai dengan koordinasi pelayanan. Semuanya harus saling mendukung,” jelasnya.
Dovy menegaskan optimalisasi fasilitas kesehatan harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap fasilitas yang telah dibangun dan dioperasionalkan perlu terus dievaluasi agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi pasien.
“Prinsipnya, setiap fasilitas yang kita miliki harus memberikan dampak terhadap peningkatan pelayanan. Karena itu, setelah beroperasional kita harus terus melihat penggunaannya, mendengarkan masukan dari petugas dan melakukan perbaikan apabila masih ada yang perlu disempurnakan,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas pelayanan seiring dengan pengembangan fasilitas rumah sakit. “Harapan kita tentu fasilitas ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dan mampu mendukung pelayanan pasien kritis di RS M. Djamil. Yang kita kejar bukan hanya kapasitasnya bertambah, tetapi kualitas pelayanan juga harus terus meningkat,” pungkas Dovy.(*)